Urungkan Niat Jadi Pilot jika Mengidap 3 Penyakit Ini

Syarat Jadi PilotProfesi pilot dinilai prestisius di mata banyak orang. Pertama, penghasilan pilot tergolong dalam kategori tinggi. Kedua, pulau di Indonesia dan negara di dunia dikunjungi bagai tanpa jarak. Ketiga, pilot punya seragam yang memberikan kesan gagah saat memakainya. Atas dasar ini, hal yang wajar jika butuh pengorbanan yang besar untuk memiliki profesi sebagai pilot. Dana, bentuk pengorbanan yang harus dikeluarkan untuk bisa menjadi seorang pilot. Dana tersebut dipergunakan untuk mendapatkan pendidikan & pelatihan terbang sekaligus lisensi penerbangan di sekolah pilot. Sayangnya, dana yang dimiliki bakal percuma atau tidak mendukung untuk masuk sekolah penerbangan atau pilot jika memiliki 3 penyakit berikut:

Epilepsi

Epilepsi sering disebut dengan penyakit ayan. Lebih lanjut, epilepsi sendiri merupakan gangguan yang terjadi pada sistem saraf sehingga memicu reaksi pada tubuh seperti kejang-kejang. Epilepsi sendiri terjadi di segala usia mulai dari anak-anak hingga dewasa. Penyebab dari epilepsi sendiri sebagai berikut:

  • Rendahnya oksigen saat dilahirkan
  • Kepala pernah mengalami cedera
  • Kadar abnormal dari zat-zat dalam tubuh
  • Dan lain sebagainya

Faktanya, hingga kini belum ada upaya yang bisa menyembuhkan penyakit ini secara total. Namun, penderita epilepsi disarankan menghindari beberapa aktivitas berikut agar epilepsi tidak kambuh:

  • Tidak minum obat sesuai jadwal
  • Tidak bisa meninggalkan alkohol
  • Kurang tidur
  • Terlalu lelah

Akan sangat menghawatirkan jika seorang pilot mengidap penyakit epilepsi, bukan? Bagaimana jika tiba-tiba pilot mengalami kejang-kejang saat mengudara? Keselamatan penerbangan berpotensi tidak bakal dicapai. Kru pun akan kerepotan akan kondisi ini.

Buta warna

Mata menjadi organ tubuh yang sangat vital bagi seorang pilot. Oleh karena itu, ketika masuk sekolah pilot harus melewati cek mata untuk memastikan mata rabun atau tidak. Calon pilot yang memiliki mata rabun masih bisa ditolerir. Calon pilot bisa berpeluang sembuh dengan mengikuti operasi LASIK yang harganya tidaklah sedikit. Akan tetapi, jika calon pilot memiliki penyakit buta warna setelah dites ishihara, tidak ada kesempatan lagi untuknya menggapai cita-cita jadi pilot.

Semua instrumen dalam kokpit pesawat bukan hanya menggunakan bahasa Inggris, melainkan juga memiliki warna yang beragam. Apa yang terjadi jika pilot tidak bisa membedakan warna-warna tersebut? Pilot bisa saja memilih tombol yang salah. Alhasil, keselamatan dirinya, kru, hingga penumpang pesawat bakal terancam. Pesawat akan jatuh, resiko terburuk yang bakal diterima.

Sakit jantung

Kalau punya penyakit jantung, sebaiknya urungkan niat untuk jadi pilot. Di sekolah pilot, ada yang namanya tes ECG atau Elektrokardiogram. Tes ini akan menunjukkan apakah punya masalah pada jantung atau tidak. Jika denyut jantung berdetak tidak normal, membuktikan mengalami masalah pada jantung. Kalau sudah begitu, bisa dipastikan tidak ada peluang lagi untuk menjadi pilot. Masa pendidikan di sekolah pilot nyatanya identik dengan pendidikan semi militer.

Ditakutkan penyakit jantung bisa kumat ketika menghadapi pendidikan yang cukup menguras energi dan sarat akan kedisiplinan ini. Di samping itu, ditakutkan ketika menjadi pilot akan sangat membahayakan jika penyakit jantung kambuh ketika sedang mengudara. Bukan hanya nyawa pribadi yang bakal terancam karena lambatnya mendapat pertolongan medis, melainkan juga nyawa penumpang pun menjadi taruhannya jika pesawat tidak sempat dikendalikan oleh co-pilot.

Asumsi bahwa profesi pilot hanya diperuntukkan bagi orang-orang tertentu saja, bisa dibilang tepat. Sebab, mereka yang menjadi pilot tidak hanya cerdas dalam bahasa Inggris, punya tubuh yang ideal, dan punya dana yang mumpuni untuk bisa sekolah pilot, melainkan harus memiliki kondisi kesehatan yang oke.